Trump dan Netanyahu: Perseteruan Dua Karakter yang Bisa Mengguncang Timur Tengah

(SeaPRwire) –

By: Julian Holbrooke

Ketegangan antara Donald Trump dan Benjamin Netanyahu bukan lagi sekedar perbedaan kebijakan. Ini adalah bentrokan dua karakter yang bertolak belakang, dan Israel mulai khawatir sekutu terkuatnya bisa tiba-tiba berbalik arah. Ketakutan itu muncul nyata setelah serangan Israel ke Beirut untuk kedua kalinya pada hari Minggu, yang justru mengancam kesepakatan AS-Iran yang sedang digodok Trump.

[Pernyataan Resmi]: Netanyahu menegaskan Israel “bukan pihak” dalam nota kesepahaman AS-Iran yang diumumkan Trump pada 11 Juni. Sehari kemudian, dia mengulangi bahwa Iran “bekerja untuk menghancurkan negara Yahudi”. Serangan ke Beirut disebut sebagai persiapan menghadapi pembalasan Iran, sementara seorang diplomat menyebutnya sebagai upaya jelas Israel untuk “menghancurkan kesepakatan presiden”.

[Niat Geopolitik Sebenarnya]: Serangan itu terjadi saat Netanyahu bersiap memimpin Sidang Kabinet Keamanan, dan setelah Trump mengumumkan MOU akan segera ditandatangani. Seorang diplomat terlibat perundingan mengatakan serangan “menciptakan masalah dalam finalisasi kesepakatan”. Trump sendiri mengecam serangan di Truth Social dan menyebut Netanyahu “tidak punya penilaian yang baik” kepada Axios.

[Fakta Komunikasi Lanjutan]: Trump sebelumnya juga mengkritik Netanyahu melalui telepon awal bulan ini, menyebutnya “gila” atas serangan pertama ke Beirut yang mempersulit negosiasi. Natan Sachs dari Middle East Institute menyebut ada “ketakutan rasional dan sehat” di pemerintah Israel. Dia menggambarkan jurang strategis: doktrin Netanyahu tentang tekanan militer jangka panjang versus keinginan Trump akan kemenangan diplomatik instan.

[Pendulum Geopolitik Bergeser]: Ketakutan Israel bahwa Trump bisa “berbalik” bukanlah ilusi. Ini adalah konsekuensi logis dari mempertaruhkan segalanya pada satu orang yang temperamental dan menginginkan kemenangan cepat. Ketika kemenangan cepat itu tidak terwujud—dan memang tidak—hubungan ini memasuki fase berbahaya yang baru. Pendulum keamanan Timur Tengah kini bergantung pada kesabaran seorang presiden yang terkenal tidak sabaran.

Author bio: Julian Holbrooke, analis hubungan internasional luar negeri yang kerap berkontribusi untuk surat kabar harian besar Eropa.