Akhir dari Bromance: Kalkulus Keras di Balik Jabat Tangan Dingin Trump-Modi

(SeaPRwire) –   By: Alistair Mercer

Pelukan berbagai itu telah lenyap. Di KTT G7 di Prancis, Modi hanya menawarkan jabat tangan. Ini bukan sekadar etiket semata. Ini adalah sinyal hubungan yang mendingin. Teater diplomati telah berubah total. Bahasa tubuh Trump berbicara volume. Bromance masa jabatan pertama sudah mati. Sekarang, semuanya bersifat transaksional. India berada dalam posisi terdesak. Pakistan mengamati dengan cermat dari pinggir.

Lihat gencatan senjata Mei 2025. Trump mengklaim dia yang memperbaikinya. India bersikeras itu hasil pembicaraan bilateral. Bentrokan ini mengungkap gesekan nyata. Trump menjatuhkan tarif tinggi ke India. Dia menekan mereka soal minyak Rusia. Visa H-1B menjadi senjata lain. Agenda “America First” menghancurkan persahabatan lama. India salah menilai masa jabatan kedua. Mereka bertaruh pada kesetiaan lama yang sudah pudar.

Sementara itu, Pakistan memainkan permainan dengan sempurna. Trump mengundang Jenderal Asim Munir ke makan siang. Dia menyebutnya “manusia luar biasa”. Ini kontras tajam dengan tuduhan “kebohongan” di masa lalu. Pakistan menjadi mediator kesepakatan Iran. Mereka masuk ke dalam buku baik Trump. India mencoba mengisolasi Pakistan. Sebaliknya, Pakistan menjadi pemecah masalah. Pivot diplomatik sudah lengkap.

India berusaha keras untuk mereset. Marco Rubio mengunjungi baru-baru ini. Trump memuji Modi lagi di G7. Tapi dinamikanya telah bergeser. Pakistan memegang kartu sebagai mediator. India harus membuktikan mereka masih mitra yang andal. Keseimbangan kekuatan di Asia Selatan cair. New Delhi tidak bisa mengandalkan kejayaan masa lalu. Mereka butuh strategi baru.

Author bio: Alistair Mercer, mantan utusan diplomatik dan penasihat komite pertahanan lintas batas yang berbasis di Eropa.