Mengapa Kesepakatan Baru AS-Iran Dikendalikan Oleh Musuh Lama AS?

(SeaPRwire) –   By: Julian Holbrooke

Orang sering mengira kesepakatan AS-Iran ditangani kelompok moderat. Nyatanya, kunci perjanjian ini dipegang garis keras utama Iran. Orang yang kini berjabat tangan dengan Washington adalah yang seumur hidup lawan AS. Banyak pakar mengatakan ini bukan tanda perubahan sikap. Ini justru bukti nyata siapa yang pegang kekuatan sesungguhan di Tehran.

Rabu pekan ini, Donald Trump dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian menandatangani nota kesepahaman secara digital. Tujuan utamanya adalah mengakhiri perang dan membuka kembali alur lalu lintas di Selat Hormuz. Kesepakatan ini memberi keringanan ekonomi besar bagi Iran. Semua pertanyaan sulit soal nuklir ditunda 60 hari untuk negosiasi perjanjian akhir. AS setuju mengangkat blokade laut, buat rencana rekonstruksi senilai $300 miliar. AS juga akan menghapus sanksi sesuai jadwal yang sudah disepakati bersama. Sebagai ganti, Iran menegaskan tidak akan mengembangkan senjata nuklir.

Figure utama di balik perjanjian ini adalah Mohammad Bagher Ghalibaf, mantan komandan Garda Revolusi Iran. Dia naik pangkat selama perang Iran-Irak, pernah jadi kepala polisi nasional Iran. Dia pernah menekan demonstrasi internal, termasuk pemberontakan mahasiswa 1999. Setelah masuk politik, dia gagal maju presiden beberapa kali. Dia bangun karir lewat loyalitas penuh pada rezim, jadi ketua parlemen sejak 2020. Pakar Iran Beni Sabti mengatakan Ghalibaf tidak punya jalur kebijakan independen. Dia hanya “orang iya” yang menjalankan perintah dari atasan rezim. Namanya juga terkait banyak tuduhan korupsi dan jaringan penghindaran sanksi yang melibatkan keluarganya. Anak-anaknya bahkan sudah masuk daftar sanksi AS sejak lama.

Banyak pakar memperingatkan, AS salah jika mengira oportunisme Ghalibaf adalah tanda moderasi. Pengalaman setelah JCPOA menunjukkan rezim Iran tidak pernah berubah sifat. Setelah perjanjian itu, mereka malah bangun arsenal rudal besar dan jaringan proksi yang mengacaukan kawasan. Pertanyaan terbesar bukan apakah Ghalibaf bisa menegakkan kesepakatan. Pertanyaannya adalah apakah rezim Iran memang berniat menepati janji. Kemungkinan besar mereka hanya membeli waktu untuk bangun kekuatan sebelum konflik berikutnya. Keseimbangan geopolitik kawasan Timur Tengah akan segera bergeser ke arah yang lebih berbahaya.

Author bio: Julian Holbrooke, analis hubungan internasional yang rutin berkontribusi untuk surat kabar harian utama Eropa.