

(SeaPRwire) – By: James Vance
Pasar teknologi global sedang menghadapi ujian berat minggu ini. Likuiditas mengetat akibat ancaman kenaikan suku bunga. Di sisi lain, ambisi kecerdasan buatan terus membakar modal. Wall Street kini didera kecemasan hebat. Investor mulai meragukan keberlanjutan valuasi tinggi sektor teknologi. Konflik geopolitik di Iran memperparah keadaan dengan menyumbat pasokan minyak. Biaya energi yang melonjak mengancam margin keuntungan perusahaan. Sektor ini terjebak di antara ekspektasi dan realitas makroekonomi.
Data pekan lalu menunjukkan kepanikan pasar yang nyata. Indeks S&P 500 merosot 2,6 persen. Nasdaq jatuh hingga 4,7 persen. Dow melemah 0,6 persen. Penurunan ini dipicu oleh penambahan 172.000 lapangan kerja pada Mei. Angka ini jauh melampaui estimasi awal sebesar 88.000 pekerjaan. Bitcoin ikut tertekan di kisaran 60.000 dolar AS. Angka itu menyusut 50 persen dari rekor tertingginya. Indeks sentimen konsumen Michigan jatuh ke rekor terendah 44,8. Inflasi Mei diproyeksikan melonjak menjadi 4,2 persen. Angka ini naik dari 3,8 persen pada April. Core CPI juga diperkirakan naik menjadi 2,9 persen. PPI April tercatat naik 6 persen. Di tengah badai ini, SpaceX bersiap melantai di bursa hari Jumat. Sahamnya dihargai 135 dolar AS per lembar. Valuasi SpaceX ditargetkan mencapai 1,78 triliun dolar AS. Sekitar 90 persen dari potensi pasarnya menyasar pusat data luar angkasa. Sementara itu, Oracle akan merilis laporan keuangan kuartal keempat pada Rabu. Saham Oracle sudah naik 12 persen tahun ini. Adobe menyusul dengan laporan keuangan pada hari Kamis.
Siklus komersial AI kini menghadapi ujian likuiditas yang sesungguhnya. Pelonggaran aturan Nasdaq membuat SpaceX bisa langsung masuk indeks Nasdaq 100. Hal ini memaksa manajer investasi membeli sahamnya secara otomatis. Namun, ketergantungan pada teknologi AI yang belum terbukti sangat berisiko. LPL Financial bahkan sudah memperingatkan potensi guncangan bagi investor baru. Oracle dan raksasa teknologi lain harus menerbitkan obligasi besar. Nilai penerbitan obligasi diproyeksikan mencapai 175 miliar dolar AS pada 2026. Biaya modal yang tinggi akan menyaring pemain AI yang lemah. Hanya perusahaan dengan arus kas riil yang akan bertahan. Sisanya akan tersingkir saat likuiditas global benar-benar mengering.
Author bio: James Vance, jurnalis senior di mingguan teknologi internasional terkemuka. Ia berfokus pada analisis pasar teknologi mendalam dan dampak makroekonomi global terhadap Silicon Valley.
