

(SeaPRwire) – By: James Vance
Masuk ke jagat Marvel atau DC saat ini terasa seperti tersesat di galaksi yang tak berujung. Dengan gabungan durasi lebih dari 550 jam, MCU saja sudah jadi komitmen luar biasa. Ini bukan cuma soal waktu. Anda perlu hapal semua pahlawan, penjahat, agen rahasia, panglima perang antargalaksi, dan semua yang ada di antaranya.
Dulu, film superhero masih genre baru. Christopher Reeve membuka jalan dengan Superman. Film-film 80-an dan 90-an mencoba membawa dunia komik ke layar lebar. Ada yang sukses, seperti Batman garapan Tim Burton. Banyak juga yang tenggelam. Salah satunya, The Phantom, yang 30 tahun lalu dirilis. Film ini paling jujur menangkap semangat *pulp* komik.
Billy Zane, setahun sebelum Titanic, jadi Kit Walker. Dia pewaris gelar The Phantom, yang turun-temurun. Film ini mengikuti perburuannya terhadap Tengkorak Touganda, artefak sakti. Bersama kekasihnya, Kristy Swanson, ia berpacu melawan pengusaha licik Xander Drax, diperankan Treat Williams. Mereka berusaha mencegah artefak jatuh ke tangan yang salah.
The Phantom bukan film superhero realistis. Genre ini belum mengarah ke pendekatan yang lebih membumi seperti X-Men, Spider-Man, atau Batman Begins di tahun 2000-an. Film ini justru merangkul energi komik yang liar. Ia tak peduli pada logika cerita atau karakter yang kompleks.
Keterbatasan dan kelemahan naratifnya justru jadi daya tarik. Film ini tak menjauhi estetika petualangan *pulp*. Ia justru merayakan fitur-fitur berlebihan khas komik 1930-an. Mulai dari pahlawan berkostum gagah, perampok makam, bajak laut udara, hingga adegan perkelahian kartunis.
Energinya ringan, mirip Zorro, Indiana Jones, atau Buckaroo Banzai. Warnanya cerah, seolah diambil langsung dari Detective Comics #27. Kritikus saat itu tak terkesan. Mereka anggap film ini datar, tak bersemangat, dan mudah ditebak. Namun, seiring waktu, banyak penonton memuji atmosfer *pulp*-nya. Film ini banyak memberi penghormatan pada komik aslinya, mengambil cerita dari dua strip Phantom pertama karya Lee Falk.
Kini, The Phantom mudah dianggap sekadar eksperimen murahan Hollywood sebelum MCU mendominasi. Film ini kalah jauh dari The Avengers atau Guardians of the Galaxy. Humornya, skalanya, daya tarik massalnya, semua tak sebanding. Namun, The Phantom layak ditonton justru karena ia *berbeda*. Ia bukan film superhero yang kita dapat sejak Iron Man di 2008.
Film ini tak menyajikan penggambaran modern. Ia justru merekonstruksi dunia 1930-an yang terinspirasi komik. Dialognya datar, lokasinya eksotis, kostumnya tak terlupakan, persis seperti karya Falk. Sama seperti pesona Adam West’s Batman, The Phantom menawarkan pelarian dari realitas. Ia membawa kita ke masa ketika genre superhero belum tercemar sekuel, prekuel, crossover, dan spin-off.
Apakah The Phantom ketinggalan zaman? Tentu saja. Apakah ia norak dan kekanak-kanakan dibanding film Marvel dan DC terbaru? Sangat mungkin. Tapi The Phantom melakukan apa yang seharusnya dilakukan film komik hebat: selama satu jam 40 menit, Anda masuk ke dunia penuh warna imajinasi. Dunia yang ringan, menyenangkan, dan untungnya, tak butuh belasan film lain untuk dipahami.
The Phantom tersedia di Prime Video.
Author bio: James Vance, seorang kolumnis senior yang ditempatkan secara permanen di mingguan teknologi internasional terkemuka, dikenal karena analisisnya yang tajam terhadap tren industri.
